Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia

Saturday, November 26, 2011

Islamic Worldview 11

Kita tidak mengakui dalam hal Islam terhadap garis pembagian yang datar yang memisahkan pemahaman  public dan khusus terhadap kebenaran Agama. Kita lebih memelihara sebuah garis tegak penyatuan dari pemahaman umum dan khusus; sebuah garis tegak dari penyambungan yang kita sebut sebagai jalan lurus dari Islam Iman Ihsan tanpa ada ketidak-sesuaian dalam tiga tahap kenaikan ruhiah yang mana Kenyataan atau kebenaran Ketuhanan yang dianggap dan diakui dalam kasus kita yang bisa di akses ke banyak hal.

Pola pada kain

 Hal ini sia-sia untuk melakukan penyamaran kesalahan dalam hal agama, dalam pendangan pemahaman mereka dan penafsiran terhadap naskah mereka yang mereka percayai sebagai mencerminkan wahyu asli, dengan

Sunday, November 13, 2011

Islamic Worldview 10

Pesan inti dari wahyu selalu sama: untuk mengenal dan mengakui dan menyembah Satu Tuhan yang Benar dan Sebenarnya (ilah) sendiri, tanpa mengekutukanNya dengan sekutu, saingan, atau bandingan tidak pulah mensifati seperti diriNya; dan mengakui kebenaran yang dibawa oleh Nabi nabi sebelumnya dan juga kebenaran terakhir yang dibawa oleh Nabi Terakhir yang dibenarkan oleh Nabi-nabi sebelumnya. Dengan pengecualian dari umat Nabi terakhir ini, yang mana agaa wahyu telah mencapai kesempurnaan tertinggi yang ana kemurnian awal terjaga hingga hari ini, kebanyakan umat-umat dari nabi sebelumnya yang diutus telah secara bebas mengubah tuntunan menurut ciptaan budaya dan penemuan adat menurut mereka sendiri, dan mengklaim hal ini adalah agama tiruan dari agama wahyu.
Islamic Caliphate

Friday, November 11, 2011

Islamic Worldview 9

Kecenderungan untuk mengarah pada penemuan ilmu pengetahuan modern yang memikirkan sistem alam semesta dengan berpasangan pada pernyataan-pernyataan yang diterapkan pada masyarakat manusia, tradisi budaya, dan nlai –nilai adalah satu dari ciri sifat dari modernitas. Posisi dari mereka yang mendukung teori keMahaan persatuan dari agama yang berbasis pada anggapan bahwa semua agama atau agama besar umat manusia merupakan agama wahyu. Mereka mengasumsikan bahwa kea lam semestaan dan keMahaBesaran dari pencerahan yang mengsahkan teori mereka yang mereka temukan setelah melakukan pengajaran terhadap diri mereka sendiri dengan metafisika dalam islam. Dalam pemahaman mereka terhadap metafisika ini dari kemahaan persatuan dari kehadiran, mereka secara lebih jauh menganggap bahwa penyatuan kemahaan dari agama telah dilakukan. Terdapat kesalahan mendasar dalam semua asumsi mereka, dan frase penyatuan kemahaan agama merupakan kesalahan dan mungkin berarti seperti itu untuk motif selain dari kebenaran. Mereka mengklaim untuk mempercayai keesaan yang maha dari agma-agama yang merupakan sesuatu yang disarankan kepada mereka secara inductive oleh imajinasi dan diturunkan dari spekulasi intelektual dan tidak dari pengalaman yang sebenarnya. Jika hal tersebut diingkari dan klaim mereka diturunkan dari pengalaman yang lain, maka kemudian kita katakana lagi bahwa indra keesaan yang dialami bukan dari agama tapi dari derajat yang berbea dari pengalaman keagamaan individu yang tidak sepenuhnya mengarah pada anggapan bahwa agama dari tiap individu yang mengalami keesaan tersebut, mempunyai kebenaran dari keabsaahan sebagai agama wahyu pada tingkat keberadaan biasa. Terlebih lagi, seperti yang sudah ditunjuk,

Thursday, November 10, 2011

Islamic Worldview 8

 Sifat – sifat Tuhan yang dipahami dalam Islam tidak sama seperti konsepsi Tuhan yang dipahami pada berbagai tradisi agama di dunia; tidak pula sama seperti konsepsi Tuhan yang dipahami pada tradisi filosofis di Yunani dan Yunani kuno. Bukan pula seperti konsepsi Tuhan yang dipahami di tradisi ilmiah dan filosofi di barat; bukan pula tradisi mistis di Timur dan Eropa.

Kemiripan yang sama yang mungkin ditemukan pada berbagai konsepsi Tuhan dengan sifat-sifat Tuhan yang dipahami di Islam tidak bisa ditafsirkan sebagai bukti identitas dari Tuhan alam semesta yang tunggal dalam berbagai konsepsi dari sifat-sifat Tuhan; untuk setiap dan tiap-tiap konsepsi mereka merupakan dan termasuk pada sistem konsepsi yang berbeda yang mana butuh untuk diterapkan pada konsepsi sebagai seluruh atau sistem super agar menjadi berbeda –satu sama lain. Tidak ada satupun sebuah hubungan kesatuan agama yang bersifat transcendent, jika kesatuan berarti satu-satunya atau kesamaan dan jika kesatuan tidak berarti satu-satunya atau kesamaan, maka terdapat perbedaan atau ketidak samaan dari agama bahkan pada tingkat transcendent. Jika hal tersebut memanglah sesuatu yang bersifat kebetulan atau ketidak miripan pada tingkat dan hal itu  dengan kesatuan berarti ketersambungan dari bagian yang membutuhkan keseluruhan, sehingga hal tersebut mengikuti bahwa pada tingkat keberadaan yang biasa, dalam umat manusia yang sama adalah hal yang menjadi batasan kemanusiaan dan alam semesta materi. Agama apapun tidak sempurna secara sendiri dan dalam dirinya tidak cukup untuk mewujudkan tujuannya, dan hanya bisa mewujudkan tujuannya, yang mana tujuan yang benar hanya kepada satu tuhan alam semeeta tanpa menyekutukannya dengan sekutu, tandingan, atau sejenisnya pada tingkat transcenden.

Friday, October 28, 2011

9 Penyebab Seorang Murobbi Gagal Berinteraksi dengan masyarakat

9 penyebab seorang murobbi gagal sebagai seorang dai antara lain:

1. mengucilkan diri dari masyarakat
ketika seorang tetangga

2. memiliki pemahaman yang salah terhadap uzlah syu'uriyah
kita harus eksklusif dalam hal aqidah dan inklusif dalam masalah sosial. misal seorang kader punya tetangga yang anaknya pacaran di depan rumah adalah hal yang salah.

3. tidak membiasakan diri menjalin hubungan dengan orang lain
mencuekkan orang di samping ketika di kendaraan.

4. pengalaman sebelumnya
mahasiswa cenderung tidak berkomunikasi dengan sekitar dll.

5. masalah kesibukan
kader biasanya sibuk setiap hari karena kantoran maupun agenda dakwah sehingga seakan tidak berinteraksi dengan sekitar.

Friday, August 19, 2011

Momentum Memperluas Paham Agama


Ahmad Rizky Mardhatillah Umar

KH MAS MANSYUR pernah memberi kita sebuah nasihat bagus: "Hendaklah faham agama yang sesungguhnya (murni) dibentangkan seluas-luasnya, diujikan dan diperbandingkan, sehingga kita mengerti dan meyakinkan bahwa Agama Islam yang paling benar, ringan dan berguna, hingga merasa nikmat mendahulukan amalan keagamaan itu".

Belajar Disiplin

Ikhtilaf
Nasihat tersebut kemudian ditetapkan menjadi salah satu dari 12 Langkah Muhammadiyah. Maknanya, agama Islam tidak mengikat paham pada pemeluk-pemeluknya untuk hanya memahami persoalan agama secara tunggal, baik dalam segi ibadah maupun muamalah duniawiyah. Ada beragam hadits dan beragam pendekatan dalam memutuskan perkara fiqh, sehingga tidak mungkin dipersempit hanya menjadi satu macam jalan beragama.

Salah satu qa'idah ushul fiqh menyebut bahwa hukum-hukum Islam dapat berubah-ubah dengan mengingat keadaan orang. Oleh sebab itu, hendaknya dalam beragama tidak hanya satu pendekatan yang dipertimbangkan, melainkan juga pendekatan yang lain untuk di-tarjih dan diputuskan kedudukan hukumnya agar bisa berlaku bagi umat.

Hikmahnya yang lain, kita dituntunkan untuk tidak bersikap fanatik mazhab atau fanatik jamaah, melainkan menjadikan semuanya sebagai sumber keragaman dalam khazanah Islam yang memperkaya satu sama lain. Inilah yang dimaksud oleh KH Mas Mansyur sebagai "memperluas paham agama".

Berbeda adalah hal yang sangat niscaya dalam kehidupan ini. Allah sudah menggariskan dalam firman-Nya di surah Al-Hujurat: 13, "Wahai umat manusia! Sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari lelaki dan perempuan, dan Kami telah menjadikan kamu berbagai suku dan bangsa, supaya kamu berkenal-kenala . Sesungguhnya semulia-mulia kamu di sisi Allah ialah orang yang lebih taqwa di antara kamu".

Dari ayat tersebut, sudah jelas bahwa perbedaan di antara manusia adalah fitrah. Akan tetapi, perbedaan dalam soal agama hendaknya tidak menjadi konflik berlarut-larut. Rasulullah sudah memerintahkan kita untuk kembali pada Al-Qur'an dan As-Sunnah ketika berselisih paham dalam agama.

Wednesday, August 17, 2011

sekali merdeka, merdeka sekali


Momentum Hari Ulang Tahun (HUT) Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia (RI) ke 66 pada 17 Agustus tahun 2011 ini menjadi istimewa karena bertepatan dengan bulan Ramadhan. Peristiwa serupa juga terjadi pada 66 tahun silam, saat Indonesia diproklamirkan sebagai bangsa merdeka. Setelah melalui perjuangan panjang selama lebih dari tiga abad, Jum’at 17 Agustus 1945 Masehi bertepatan dengan 9 Ramadhan 1334 Hijriyah, dari bangsa terjajah yang dipecah belah oleh politik devide et impera kompeni,  Indonesia bertransformasi menyatakan kemerdekaan sebagai bangsa yang bersatu dan berdaulat dalam naungan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).


Bukan suatu kebetulan jika pertemuan momentum tersebut kembali terulang pada tahun ini. Di sana ada pesan sejarah yang sangat kuat untuk kita maknai. Penulis berkeyakinan bahwa Allah SWT yang telah menganugerahi berkat dan rahmat-Nya kepada negeri berpenduduk mulsim terbesar di dunia ini, sebagaimana diyakini dan dituliskan di dalam pembukaan Undang Undang Dasar 1945, hendak menyentak kesadaran kita tentang cara kita mengisi kemerdekaan. Cara memaknai rentang waktu yang dilalui bangsa. Kita seharusnya memutar memory, dan dengan demikian semoga kesadaran reflektif itu muncul kembali, seperti kesadaran merdeka yang dimiliki oleh para pendiri bangsa kala itu. 

Tuesday, August 16, 2011

Al-Qur'an, Kemerdekaan dan Pengetahuan

Gegap gempita kemerdekaan RI sudah mulai terasa malam ini. Tak terasa, besok segenap pegawai negeri sipil dan pelajar akan melaksanakan upacara bendera sebagai sebuah penanda peringatan 66 tahun kemerdekaan Republik Indonesia. Bendera merah putih dipasang di depan rumah, menambah semarak kemerdekaan di usia republik yang tak lagi muda ini.

Ternyata bukan hanya kemerdekaan yang menyita perhatian kita. 17 Agustus tahun ini juga bertepatan momentumnya dengan tanggal 17 Ramadhan, momentum peringatan nuzulul qur'an. Di masjid-masjid diadakan pengajian untuk menyambutnya. Tadarrus mulai digalakkan sebagai sebuah penanda mulai turunnya Al-Qur'an dari Surah Al-Alaq: 1-5.

Rupanya, Ramadhan kali ini begitu istimewa. Dua momentum besar bertepatan dalam satu waktu. Dan dua momentum tersebut sangat berharga bagi umat Islam Indonesia. Apa yang mempertemukan keduanya?

Tujuan Kemerdekaan
Anies Baswedan merefleksikan kemerdekaan RI tahun ini dengan begitu mantap. "Narasi kemerdekaan bukanlah sebuah ekspresi cita-cita semata", tulisnya, "tetapi ia adalah janji. Pada setiap anak bangsa dijanjikan perlindungan, kesejahteraan, pencerdasan dan bisa berperan di dunia global".

Thursday, August 11, 2011

Merebut [dari dan untuk] Masa Depan (Resensi buku Merebut Masa Depan)


Oleh: Uum Heroyati dan Nunik Yuniati**
DALAM konteks sebagai muslim sekaligus sebagai warga Negara, gelisah merupakan hak sekaligus kewajiban. Ini adalah fitrah yang membawa arus perubahan dalam sejarah yang menjadi—semacam—dentuman yang “membahayakan”. Walau mesti diakui bahwa sering kali kegelisahan membawa pelakunya ke lubang “kematian”; namun penulis—sebagaimana yang diungkap dalam buku ini (meminjam pernyataan penulisnya suatu ketika, “Itupun jika layak dinamai buku”)—mengajak kita semua untuk sesekali gelisah, (asal) dilanjutkan dengan mematangkan diri secara massif agar tidak terjebak ke dalam lubang yang sama berulang-ulang.
Dengan percaya diri—karena keyakinan dan tekad—penulis buku ini mengingatkan bahwa kita hadir sebagai umat Islam sekaligus sebagai warga Negara—dengan berbagai macam hak dan kewajibannya—memiliki potensi (baca: keunggulan) dan kelemahannya masing-masing, untuk mewujudkan satu kata dalam ruang nyata: perubahan. Perubahan adalah idiom sederhana, namun ia merupakan garansi untuk cita-cita masa depan; sebuah zaman dimana kita dan banyak orang ikut menghadirkannya dan bahkan hidup di dalamnya. Perubahan adalah suatu takdir sejarah yang akan dipergilirkan. Karena itu, kita tak perlu pesimis dengan perubahan selain ikut terlibat menghadirkannya.
Dalam buku ini penulisnya berbicara apa adanya mengenai Indonesia (Negara yang dihuni oleh berbagai latar manusia, tempat dimana kita tinggal kini), tentang Islam (sebuah sistem yang mengarahkan kehidupan kita, bagaimana semestinya kita mengeja kehidupan) dan tentang Peradaban Dunia (sebuah kenyataan (baca: sejarah) global yang kelak menjadi tempat sistem atau Islam yang kita yakini itu berjaya ria). Penulisnya seperti terinspirasi oleh gagasan Malik bin Nabi yang mengatakan bahwa peradaban (baca: masa depan) merupakan kisah mengenai tiga variabel utama: manusia, sistem dan sejarah. Buku ini ditulis dalam tiga tema besar itu, yang dengan bahasa lain penulisnya ‘memodelkannya’ ke dalam tiga pembahasan utama seputar Ke-Indonesia-an, Ke-Islam-an dan Peradaban Dunia (Islam).

Sekulerisme: Paham Berkelamin Ganda


Oleh : Syamsudin Kadir*
Pengertian
Secara filologis, kata sekuler (secular) adalah kosakata asing bagi kaum muslimin. Karena itu, menelusuri jejak kata, makna, sejarah dan konsep sekularisasi sangat diperlukan agar kita tidak mudah mengadopsi, mewarisi dan memodifikasi konsep tersebut secara latah, dangkal, dan ceroboh. Sebab jika tidak, maka kita akan masuk satu pemahaman yang sangat membahayakan. Bahkan alih-alih membawa kita kepada jalan yang menyesatkan.
Kata sekuler bisa dimaknai sebagai konsep ‘kekinian dan kedisinian’, atau ruang (spatio) dan waktu (tempora). ‘Di sini’ berarti dunia, dan ‘kini’ berarti konteks sejarah. Saeculum (Latin) sebagai akar kata sekuler berarti masa kini atau zaman kini. Namun karena latar sejarahnya adalah pemisahan otoritas Gereja dan Negara, maka dalam perkembangannya di abad-19 pengertian sekular menjadi wordly not religious or spiritual (duniawi, tidak religius ataupun spiritual).
Sekularisme dalam timbangan
Mengenai definisi sekulerisme, memang agak problematis. Yang cukup runyam adalah ketika memperdebatkan makna “isme” yang melekat pada kata sekular tersebut. Apakah semua “isme” adalah ideologi, ataukah tidak semua “isme” merupakan ideologi? Hal ini menjadi perdebatan yang cukup rumit. Namun jika memahami makna kata sekulerisme dengan pendekatan sejarah justru akan lebih mudah. Awalnya sekularisme hanya dimaknai pemisahan Gereja dan Negara. Agama dibiarkan tetap hidup meskipun dalam beberapa ajarannya harus ditundukkan dengan alasan agar lebih masuk akal.
Contoh paling jelas untuk kasus ini adalah munculnya Deisme yang menyatakan bahwa Tuhan menyerahkan alam pada nasibnya sendiri. Voltaire dan Lessing bisa menjadi wakil penganut Deisme ini. Didukung pula oleh John Locke, Leibniz, Hobbes, Hume, dan Rousseau yang menarik agama ke wilayah privat serta mementingkan kewibawaan Negara. Sekulerisme awal ini bertujuan memperkuat posisi tawar terhadap Gereja, karena pemisahan Gereja dan Negara waktu itu belum mencapai angka aman. Artinya, Gereja masih mungkin menguat kembali. Maka sekulerisme pada masa tersebut disebut sekulerisme moderat.
Dalam konteks peradaban Barat, semaraknya perkembangan sains dan teknologi mendorong munculnya upaya di kalangan teolog Kristen merelevansikan ajaran Injil dengan perkembangan zaman. Sederhananya, Bibel perlu diinterpretasikan. Bahkan tak berhenti hanya sampai di situ, otentisitas teks Bibel itu sendiri yang selama ini dipercaya suci oleh mereka perlu digugat dan didekonstruksi.
Bibel yang diyakini sebagai sebuah kitab suci, misalnya, ternyata memuat berbagai fakta yang bertentangan dengan akal. Disebutkan secara implisit di dalam Perjanjian Lama bahwa dunia ini berusia kurang lebih 6000 tahun. Dunia ini juga diciptakan sebelum matahari dan bumi. Pendapat yang ada di dalam Bibel tersebut bertentangan khususnya dengan sains. Jika sains dan aktivitas penelitian ilmiyah dilanjutkan, fakta yang ada di dalam Bibel harus diabaikan. Jika tidak, konflik antara Bibel dan sains akan terjadi.
Pada tahun 1507, Copernicus (1473-1543) dalam bukunya De Revolutionibus, mengemukakan bahwa sebenarnya matahari-lah yang merupakan pusat tata surya, bukan bumi. Menyadari bahwa pendapatnya akan bertentangan dengan Injil dan menghindar dari hukuman yang akan diberikan oleh Gereja, Copernicus mengemukakan argumentasinya dengan sangat hati-hati sekali dan sangat apologitik. Disebabkan kuatnya otoritas Gereja, Copernicus tidak menerbitkan karyanya sampai 36 tahun. Pada tahun 1543 M, buku itu baru bisa diterbitkan. Salinan dari buku ini diberi kepadanya ketika dia menemui ajal di atas katil tidurnya. Seperti diduga, setelah buku ini terbit, Inkuisisi menuduhnya sebagai bid’ah. Gereja melarangnya karena bertentangan dengan ajaran Injil.
Nasib yang sama juga dialami oleh Galileo Galilei (1546-1642) yang dituduh murtad, bid’ah dan atheis karena berpendapat bahwa bumi mengelilingi matahari. Galileo diperintah supaya menghentikan kuliahnya yang membela Copernicus. Setelah 16 tahun Galileo berdiam diri, akhirnya pada tahun 1632 M, dia bersikukuh mempublikasikan bukunya berjudul The System of the World. Ini menyebabkan dia dipanggil kembali oleh Inkuisisi di Roma. Dia dipaksa untuk meninggalkan pendapatnya, jika tidak, akan diancam dengan hukuman mati. Akhirnya, Galileo dikurung. Selama sepuluh tahun di akhir hidupnya, dia mendapat layanan yang sangat buruk.
Giordano Bruno (1548-1600) mengalami nasib yang lebih buruk. Disebabkan karya ilmiahnya dalam bidang Astronomi, Bruno dibunuh oleh Inkuisisi di Italia. Bruno menyembunyikan dirinya di berbagai Negara Eropa. Setelah memburunya terus-menerus, Inkuisisi menangkapnya di Venice, Italia. Dia dikurung selama 6 tahun, tanpa buku, kertas dan teman. Pihak otoritas spiritual Gereja memindahkan Bruno dari Venice ke Roma. Dia dituduh murtad dan menulis yang bertentangan dengan ajaran Gereja. Tuduhan khusus kepadanya adalah dia telah mengajarkan terdapat pluralitas dunia. Setelah dipenjara selama 2 tahun, dia dituduh bersalah dan dibakar hidup-hidup.
Jadi, dominasi Gereja menunjukkan bahwa penelitian ilmiah akan terhambat dan penelitian ilmiah akan dihukum. Karena itu, orang Barat modern ingin lepas bebas dari dominasi institusi Gereja. Orang Barat menanamkan sejarah peradaban Eropa pada abad ke-15 dan 16 sebagai zaman kelahiran kembali (renaissance), karena akal lahir kembali setelah dikontrol oleh Gereja. Mereka juga kemudian menyebut abad ke-17 sampai abad ke-19 sebagai zaman pencerahan Eropa. Periode ini ditandai dengan semaraknya semangat rasionalisasi oleh Barat. Para filosof, teolog, sosiolog, psikolog, sejarawan, politikus, dan lain-lainnya menulis tentang berbagai karya yang menitikberatkan aspek kemanusiaan, kebebasan dan keadilan.
Perlu dicatat bahwa kekejaman Inkuisisi dilakukan oleh Gereja, yang memegang otoritas atau Wakil Tuhan. Kondisi ini sangat berbeda dengan Islam yang tidak mengenal institusi kekuasaan agama (rahbaniyyah) seperti itu. Paus adalah Wakil Kristus (Vicar of Christ) yang diklaim mempunyai sifat infallible (tidak dapat salah). Dan ketika Paus melegalisasikan berbagai kekejaman dan penindasan, maka hal itu dilakukan sebagai Wakil Tuhan. Inilah yang tidak terjadi pada tradisi Islam. Jika ada penguasa Islam yang melakukan kesalahan atau kedzaliman, maka itu dilakukan sebagai individu dan tidak atas legalitas keagamaan, meskipun ia mungkin menggunakan alasan keagamaan tertentu. Walaupun dia mengaku mendapatkan legalitas keagamaan, jika bertentangan dengan prinsi-prinsip agama, maka perlakuan, sikap dan segala hal yang dia lakukan tetap merupakan perbuatan individu bukan ajaran agama.
Di kalangan muslim sendiri ada beragam tanggapan dalam memaknai sekulerisme dan sekulerisasi. Sebagian besar dari mereka tampak kesulitan untuk memberi batasan antara keduanya. Muhammad Qutb, misalnya, menganggap sekulerisasi sebagai upaya penerapan ilmaniyah, istilah Arab yang beliau gunakan sebagai terjemahan sekulerisme. Itu berarti sekulerisasi pada gilirannya nanti akan menjurus pada sekulerisme yang membangun struktur kehidupan tanpa dasar agama atau alla diniyah (non agamis).
Analisa Muhammad Qutb tentang Islam dan sekulerisme ini bertitik tolak dari sebuah hadits nabi yang menjelaskan bahwa Islam bermula dalam keadaan asing dan nantinya akan kembali terasing, berbahagialah orang-orang yang terasing. Mereka selalu memperbaiki apa yang telah dirusak oleh manusia. Alienasi (keterasingan) yang ditakuti Qutb merupakan pengandaian akan datangnya suatu masa dimana Islam terpinggirkan sedangkan ideologi sekuler makin dipuja. Di masa inilah Islam terusir dari kehidupan publik. Padahal bagi Qutb, Islam tidak hanya terbatas pada akidah, namun juga tata hukum syari’ah. Oleh karenanya sekulerisme dicap sebagai kebatilan dan layak menjadi musuh Islam. Untuk meredam sikap keras terhadap sekulerisasi ini, Qutb menawarkan dibukanya pintu ijtihad.

Tuesday, July 26, 2011

Demi Kepentingan Bangsa(t)

Ini cerita pak Hasanudin Abdulrakhman, Pakar Fisika Molekuler yang sekarang jadi Direktur sebuah perusahaan di Jakarta. Saya kutip dari tulisan beliau di grup Kagama. Mungkin menarik dan terkait dengan KAMMI. he he he

"Tahun 1990-an Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) berdiri. Saya waktu itu masih kuliah di UGM. Saya merasa dekat dengan organisasi ini karena beberapa tokohnya adalah dosen-dosen UGM yang sudah saya kenal secara akrab. Bahkan saya turut membantu pelaksanaan beberapa kegiatan ICMI di Yogyakarta.

Setelah berdiri di bawah ICMI kemudian lahir badan-badan lain. Ada koran, lembaga penelitan, bahkan kabarnya ICMI akan punya stasiun TV. Suatu ketika saya berkunjung ke Jakarta. Karena merasa dekat dengan ICMI saya sempatkan untuk singgah di kantor lembaga penelitian yang didirikan ICMI tadi. Dari pembicaraan yang beredar lembaga ini diniatkan untuk menyaingi CSIS, sebuah lembaga think tank milik “kelompok sana”. CSIS dianggap salah satu biang keladi dari berbagai kebijakan pemerintah Orde Baru yang dinilai tidak pro umat Islam. Artinya, lembaga penelitian milik ICMI ini tadi akan menjadi pembalik sejarah, merumuskan kebijakan-kebijakan yang pro umat Islam, yang kebanyakan masih kaum dhuafa itu.

Kantor lembaga penelitian ini ada di salah satu ruangan di gedung BPPT di Jl. Thamrin. Tak perlu lah heran, karena Ketua BPPT waktu itu adalah Habibie, yang juga adalah Ketua ICMI. Dan yang saya temukan di kantor itu lebih dari yang saya duga. Semua peralatan, meja kursi, sampai mesin tik, saya lihat merupakan barang-barang inventaris BPPT. Saya pulang ke Yogya sambil terheran-heran, tentu saja. Tapi saya masih berniat melakukan konfirmasi.

Tak lama setelah itu, salah seorang petinggi lembaga tadi datang ke Yogya. Seperti biasa kami yang muda-muda dikumpulkan, diajak berdiskusi. Nah, kesempatan itu saya manfaatkan untuk konfirmasi, bagaimana ceritanya sebuah lembaga non-pemerintah bisa mendapat fasilitas dari lembaga pemerintah. Dalam fikiran saya, harus ada pemisahan yang tegas antara kepentingan orang-orang pemerintah yang kebetulan jadi pengurus ICMI, dengan posisi/jabatan mereka di pemerintah. Saya masih berharap dapat jawaban yang menggembirakan, misalnya bahwa semua fasilitas itu disewa oleh ICMI dari BPPT.

Tapi jawaban yang saya dapatkan sungguh mengecewakan. Petinggi ICMI, yang sekaligus pimpinan lembaga penelitian tadi dengan nada marah, juga melecehkan saya (menyebut saya tidak cerdas), membantah prinsip saya. “Kamu itu sama sekali tidak cerdas. Kami ini bekerja untuk kepentingan bangsa. Apa salahnya kalau kami pakai fasilitas milik negara? Kamu tahu tidak, orang-orang lain sudah lebih dulu menggunakan cara-cara seperti ini. Justru sekarang ini giliran kita!!!”

Walhasil ketika itu saya jadi bahan tertawaan dan cemoohan forum. Tapi saya jadi sadar pada satu hal, bahwa lembaga dan orang-orang semacam ini tak perlu lagi saya dekati. Sejak itu saya menjauh dari ICMI.

Waktu berjalan. Tokoh-tokoh ICMI banyak yang jadi menteri. Tokoh yang saya sebut tadi akhirnya kebagian juga di kabinet Habibie. Sejak awal dia memang mengumbar info bahwa banyak uang negara yang dikucurkan dalam bentuk kredit besar-besar, dan banyak yang macet. Program kerja dia sebagai menteri adalah “membagikan” uang negara untuk rakyat kecil, dalam bentuk kredit juga. Prinsipnya tak jauh beda dengan urusan kursi meja tadi. Orang lain sudah dapat, kini giliran kita.

Kredit yang dikucurkan memang tak diharapkan kembali. Ya itu tadi, orang lain juga tak mengembalikan, kok. Sederhana.

Di kemudian hari tokoh ini mendirikan partai, mencalonkan diri jadi presiden, tapi kalah telak di pemilu. Sekarang sudah jarang terdengar namanya. Tapi anak didiknya di lembaga penelitian tadi masih “jadi orang”. Ada yang jadi petinggi DPR, pejabat di bidang tenaga kerja, juga staf khusus Presiden.

Tak jelas apa yang dihasilkan dari sesuatu yang disebut untuk kepentingan bangsa tadi. Dari sepak terjang mereka terlihat bahwa mereka tak berbeda dengan orang-orang sebelumnya. Mereka berebut kuasa, lalu memperkaya diri. Makanya saya fikir layak kalau saya tambah huruf t di belakang kata bangsa itu. Untuk mereka, ini lebih pas.

Bangkit dengan Ilmu (Sebuah Pengantar Diskusi) [1]

Oleh: Syamsudin Kadir[2]

“Katakanlah, akankah Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi amal perbuatannya?” Yaitu orang-orang yang telah sesat amal perbuatannya di dunia ini, tetapi mereka menyangka bahwa mereka telah berbuat sebaik-baiknya”

(Qs. al-Kahfi: 103-104)

KETAHUILAH bahwa kewajiban seorang muslim sebelum beramal adalah berilmu. Bahkan agar akidahnya lurus dan terjaga, seorang muslim harus senantiasa memupuknya dengan ilmu. Bila pemahaman terhadap Islamnya berdasarkan basis ilmu yang benar, maka akidah, ibadah dan pemahamannya pun akan benar. Sebaliknya, jika pemahaman terhadap Islamnya dengan salah memahami ilmunya, maka ia akan terbawa ke dalam pemahaman dan pengamalan yang keliru bahkan akan menjadi seorang muslim yang ragu-ragu dengan keimanannya. Karena itu, mengutip pernyataan Pak Adian[3], “Kemungkaran terbesar dalam pandangan Islam adalah kemungkaran dalam bidang akidah atau kemungkaran yang mengubah bangunan fondasi Islam. Kemungkaran ini diawali dari kemungkaran dalam ilmu pengetahuan. Kemungkaran jenis ini jauh lebih berbahaya dari pada kemungkaran di bidang amal.”

Pada kondisi seperti ini umat Islam dituntut, pertama, terus-menerus mempelajari Kitab Suci (Al-Qur’an) dalam rangka mengamalkan dan menjabarkan nilai-nilainya yang bersifat umum agar dapat ditarik darinya petunjuk-petunjuk yang dapat disumbangkan atau diajarkan kepada masyarakat, bangsa dan Negara, yang selalu berkembang, berubah dan meningkat kebutuhan-kebutuhannya. Atau, dengan kata lain, kita harus mampu menerjemahkan nilai-nilai tersebut agar dapat diterapkan dalam membangun dunia ini serta memecahkan masalah-masalahnya. Karena yang demikian itulah tujuan Kitab Suci (Al-Baqarah: 213), dan itu pulalah tujuan mengapa kita diperintahkan untuk selalu mempelajari dan mengajarkannya. Kedua, kita juga dituntut untuk terus mengamati ayat-ayat Allah di alam raya ini, baik diri manusia secara perorangan maupun kelompok, serta mengamati fenomena alam. Ini mengharuskan kita untuk mampu menangkap dan selalu peka terhadap kenyataan-kenyataan alam dan sosial. Hal ini mengandung konsekwensi bahwa peran kita tidak hanya terbatas pada perumusan dan pengarahan tujuan-tujuan, tetapi sekaligus harus mampu memberikan contoh pelaksanaan serta sosialisasinya.

Sebelum dilanjutkan ke pembahasan berikutnya, di sini perlu disampaikan beberapa hal penting yang mesti kita pikirkan; dianalisa secara cermat dan dikaji secara mendalam.

Monday, July 25, 2011

PECAT KAPOLRI SEKARANG JUGA!!

Masih belum tertangkapnya Nazaruddin menjadikan persepsi penegakan hukum Indonesia di mata dunia semakin lemah. Pihak Kepolisian seakan tidak punya nyali untuk bisa menangkap Nazaruddin. Padahal dengan modal komunikasi yang dilakukannya melalui pesan singkat, BBM, hubungan telepon seharusnya aparat bisa menangkapnya dengan cepat. Tetapi kenyataannya, apa daya harga diri bangsa ini seakan dikoyak oleh anak bangsanya sendiri.

Lalu pertanyaannya muncul, apa sedemikian susahkah menangkap seorang Nazaruddin? Saya melihat bahwa aparat penegak hukum tidak punya nyali karena muatan politik lebih mendominasi dibandingkan dengan kepentingan negara. Kepolisian kini telah menjadi lembaga politik layaknya DPR. Begitupun dengan TNI, posisi presiden sebagai panglima tertinggi negara tidak berefek apa-apa karena mereka lebih patuh kepada pimpinannya masing-masing. Begitupun kalau pimpinan sama-sama dari angkatannya.

Kertas Posisi KAMMI UGM tentang Dinamika Internal KPK Pasca-Nazaruddin-Gate

Latar Belakang
Pernyataan Nazaruddin di media beberapa hari ini seakan menjadi “badai” dalam pentas politik nasional. Secara gamblang, Nazaruddin mengemukakan informasi-informasi politik yang langsung mengarah ke beberapa tokoh Partai Demokrat dan pimpinan KPK. Tentu saja, ini mengguncang kiprah Partai Demokrat yang selama ini membawa jargon anti-korupsi.

Apa yang menjadi masalah dalam statement tersebut? Tak lain, tudingan bahwa adanya deal antara Chandra Hamzah, Ade Rahardja, dan Anas Urbaningrum yang telah membawa kasus ini bergulir tajam. Chandra diduga menerima uang suap untuk kasus korupsi pengadaan seragam hansip. Ini perlu disikapi oleh segenap elemen masyarakat sipil dan gerakan mahasiswa, tak terkecuali KAMMI.

Puncak Piramida Politik Borjuasi

Berbagai cara dilakukan untuk menangkap Muhanmmad Nazaruddin, mantan Bendahara Umum Partai Demokrat yang menjadi tersangka proyek Wisma Atlet Sea Games di Palembnag. Mulai dari cara konstitusional melalui instruksi Presiden SBY kepada aparat penegak hukum, hingga cara kolosal bak kerajaan, berupa sayembara dengan imbalan Rp100 juta, seperti yang dilakukan oleh Lumbung Informasi Rakyat (LIRA).

Keretakan Demokrat

Namun hingga kini, buron Interpol tersebut tak jua berhasil ditangkap. Bahkan nyanyian politisi muda yang telah dipecat dari Partai Demokrat tersebut, menimbulkan keretakan. Berawal dari SMS Marzuki Alie, Wakil Ketua Dewan Pembina Partai Demokrat yang meminta SBY melakukan tindakan tegas untuk menyelamatkan partai. 

Saturday, July 23, 2011

Mahasiswi Aceh Tolak Pemilihan Putri

BANDA ACEH, KOMPAS.com--Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslis Indonesia (KAMMI) Aceh meminta pemerintah provinsi setempat mencabut izin pelaksanaan kontes pemilihan putri Indonesia (PPI) karena dinilai menyimpang dari ajaran Islam.
Sikap tersebut disampaikan Koordinator aksi damai muslimah KAMMI Aceh Nurul A’la di bundara Simpang Lima, Banda Aceh, Sabtu.
Ia menyebutkan kontes PPI yang sedang dilaksanakan di salah satu hotel di Kota Lhokseumawe itu akan menuai protes seperti saat Qory Sandrioriva dan Juliana Puspita, wakil Aceh pada ajang PPI pada 2009 dan 2010.

Friday, July 22, 2011

Kedangkalan Logika Liberal


Oleh : Syamsudin Kadir
Suatu ketika beberapa alumni santri ponpes Nurul Hakim (NH) Kediri Lombok Barat NTB (Sebut saja namanya: Ikhwan, Afkar dkk) melakukan diskusi kecil. Seperti biasa, mereka begitu antusias mendiskusikan berbagai permasalahan, termasuk perkembangan pemikiran dan ilmu pengetahuan akhir-akhir ini. Dari masalah teologi, fiqih, aliran sampai urusan pribadi. Bahkan mereka juga sempat mengenang-ulang pengalaman selama di NH. Tanpa diduga, salah satu antara mereka mendapatkan SMS dari seorang aktivis Liberal untuk menghadiri sebuah kajian pemikiran. Singkat cerita merekapun dating menghadiri undangan bersangkutan.

Thursday, July 21, 2011

Sebagian kata-kata Bahasa Arab

Sebagian kata-kata Bahasa Arab yang berubah makna atau pemakaiannya setelah menjadi kata serapan dalam bahasa Indonesia.
Percakapan Bahasa Arab

1. Silaturahim atau Silaturahmi. Kata ini berasal dari dua Shilah dan Rahim. Shilah artinya menghubungkan dan rahim artinya tali kekeluargaan. Dalam bahasa Indonesia maknanya menjadi luas, yakni mengikat tali persahabatan  atau persaudaraan.
2. Muhrim. Dalam kbbi disebutkan dua makna: pertama, orang yg sedang mengerjakan ihram. Kedua orang yg masih ada hubungan keluarga dekat sehingga terlarang menikah dengannya. Yang sesuai dengan bahasa arab adalah yang pertama. Sementara makna kedua adalah pengertian dari Mahram.
3. Takjil: mempercepat dalam berbuka puasa. Namun yang lebih popular di kalangan masyarakat, takjil merupakan hidangan untuk berbuka puasa.
4. Mubazir: orang yg berlaku boros. Dalam bahasa Indonesia penggunaannya meluas, dan dapat juga diartikan dengan sesuatu yang menjadi sia-sia.
5. Ustadz : tuan (sebutan atau sapaan). Dalam bahasa Indonesia juga diartikan guru agama atau guru besar laki-laki.


Beberapa Dokumentasi Mukernas KAMMI 2011


Menjelang Pleno Terakhir





Fenomena Gerakan Mahasiswasaat Saat Ini

Oleh Chandra Baturajo

Dalam banyak kesempatan mungkin kita sering mendengar kisah heroiknya para mahasiswa dalam memperjuangkan kebenaran yang sifatnya sangatlah idealis. Bahkan tumbangnya dua orde di Indonesia (orde baru dan orde lama) tak lepas dari peran serta keganasan mahasiswa saat itu, tapi pertanyaan saat ini apakah keganasan itu masih ada atau hanya sebagai nostalgia yang enak sebagai dongeng di dalam pelatihan pelatihan mahasiswa yg sangat formalitas.
Seakan pertanyaan itu adalah angin basah yang menyeruak di tengah kering kerontangnya nafas perjuangan mahasiswa saat ini, dalam sejarahnya mahasiswa ibarat koboi yang hadir ketika datang bandit dan segera menghilang sebelum orang sempat berterimaksih. lihatlah mereka datang bergelombang gelombang tatkala rezim fasis yang otoriter mulai mendzolimi masyarakat, dan manakala rezim itu tumbang, mereka telah kembali ke bangku bangku sekolah mereka, mengejar ketertinggalan mata kulaih karena aktivitas demonstrasi yang intens.
selayaknya seorang pahlawan, gerakan mahasiswa selalu asik dalam ruang perbincangan dan menjadi sorotan publik ditengah panggung keramaian, akhir akhir ini gerakan mahasiswa bukan hanya sekedar berada di tengah panggung tersebut melainkan di desak untuk kemudian terungsikan kepinggir gelanggang panggung, berbagai pemberitaan negatif (kerusuhan, pesta, teroris dll) mengemuka, integritas gerakan

Press Conference: KAMMI Tuntut Pemilu Dipercepat

BANDUNG, TRIBUN - Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) menilai bahwa pemerintah SBY gagal. Melalui cara konstitusional KAMMI meminta SBY untuk mundur atau percepat Pemilihan Umum Presiden.
Ketua Bidang Kebijakan Publik, Noval Abuzar, mengatakan bahwa KAMMI se-Indonesia mendorong perubahan kepeimpinan nasional dalam tempo yang sesingkat-singkatnya agar Indonesia terbebas dari rezim yang koruptif, pembohong dan menyengsarakan rakyat.

Wednesday, July 20, 2011

Rekaman Nazarudin dan jingle Sari roti

Entah benar atau tidak, rasanya rekaman ini di rekayasa. rekaman ini memang berasal dari vivanews tapi jika dibandingkan dengan dari MetroTv sedikit berbeda. namun jika benar rekaman dari vivanews asli maka bisa jadi nazarudin sebenarnya 'masih' di Indonesia.

atau dari youtube yang merupakan rekaman dari HP(format .3gp)
hal ini bisa jadi suara rekaman sari roti berasal dari orang yang jualan ketika video tersebut direkam dengan HP.

bandingkan dengan rekaman ini yang berasal dari metro TV





by. Hilal, KAMMI Jabar

KAMMI Konferensi Pers Mukernas

BANDUNG, TRIBUN- Pengurus Pusat Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI), akan melakukan konferensi pers pada siang ini pukul 13.00 di Rumah Makan Sindang Reret, Bandung. Konferensi pers itu juga terkait Musyawarah Kerja Nasional (Mukernas) dan pernyataan sikap.

Rencananya, konferensi pers tersebut dihadiri Ketua KAMMI Pusat, M Ilyas, dan Sekjen KAMMI Pusat, Andriyana. Selain konferensi pers. tentang Mukernas, KAMMI juga akan mengeluarkan pernyataan sikap, bahwa pemerintahan di bawah Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono gagal, dan mempercepat kepemimpinan nasional. (guy)

Jadwal Imsakiyah 1432 Daerah Aceh Utara

Jadwal Imsakiyah Ramadhan 1423 H Daerah Aceh Utara

Memulai Rekayasa Sosial Dari Masjid by Yodivalno Ikhlas

Masjid merupakan salah satu dari sarana perjuangan yang sangat strategis. Indonesia memiliki ratusan ribu masjid yang tersebar diseluruh pelosok negeri ini. Ini merupakan potensi besar yang harus dimamfaatkan oleh gerakan mahasiswa khususnya KAMMI untuk memulai rekayasa sosial . masjid seringkali dilupakan oleh gerakan mahasiswa, padahal masjid merupakan salahsatu sarana yang paling efektis untuk membangun komunikasi massa dengan grassroot.

Rekayasa Sosial


Masjid hari ini kurang dinamis, ini diakibatkan oleh kurangnya minat kaum muda untuk mengisi posisi strategis di masjid. Masjid seakan menjadi milik para camat (calon mati), para orang muda menyingkir ke lapangan bola, café, diskotik dan lainnya. KAMMI paling bertanggung jawab terhadap fenomena ini.

Tuesday, July 19, 2011

Catatan kecil Bahasa Arab yang sering Digunakan Aktifis

1.شكرا (Syukran) Terima kasih
2. عفوا(Afwan) Terima kasih kembali. Atau Digunakan untuk minta Maaf.
3. شفاك الله (Syafakallah) Semoga Allah memberikan kesembuhan kepadamu (laki-laki).
4. شفاك الله (Syafakillah) Semoga Allah memberikan kesembuhan kepadamu (perempuan).
5. شفاكم الله (Syafakumullah) Semoga Allah memberikan kesembuhan kepada kalian (laki-laki).
6. شفاه الله  (Syafahullah) Semoga Allah memberikan kesembuhan kepadanya (laki-laki).
7. شفاها الله  (Syafahallah) Semoga Allah memberikan kesembuhan kepadanya (perempuan).
8. شفاهم الله  (Syafahumullah) Semoga Allah memberikan kesembuhan kepada mereka (laki-laki).
9. شفاهن الله  (Syafahunnallah) Semoga Allah memberikan kesembuhan kepada mereka (perempuan).

Bandara Jeddah

Jika Syafakallah diartikan dengan “Semoga lekas sembuh” tentu diucapkan kepada semua orang. Suatu hari saya pernah menjenguk anak dosen yang sedang sakit, ketika itu teman dosen saya juga datang. Setelah selesai, teman dosen itu pamit sambil mengatakan kepadanya, “Syafakallah.” Dosen itu hanya senyum-senyum saja dan maklum adanya. Seharusnya yang diucapkan adalah “Syafahullah.”

Pendidikan Berkarakter Profetik

Dewasa ini ramai diperbincangkan penerapan pendidikan karakter di satuan pendidikan. Khalayak tentu menanti janji Menteri Pendidikan Nasional untuk mulai memberlakukan mata pelajaran pendidikan karakter dari jenjang sekolah dasar hingga perguruan tinggi di tahun ajaran 2011 ini. Awal mula ide pendidikan karakter ini didasari kritik sosial atas proses pendidikan nasional yang lebih dominan mengasah ranah kognitif peserta didik, sedangkan sisi afektif dan psikomotorik tidak mendapatkan jatah seimbang.
Pendidikan Anak

Tak dapat dimungkiri sistem evaluasi Ujian Nasional (UN) memaksa anak untuk lebih banyak memberdayakan aspek nalar dalam proses belajarnya. Apalagi hanya tiga mata pelajaran inti yang berpengaruh kuat mengatrol nilai kelulusan membuat anak berfikir pragmatis.
Berorientasi hasil (pokoknya lulus) tanpa menghargai proses. Ihwal ini akan membuat materi pelajaran lain terabaikan, termasuk segi sikap dan nilai serta keterampilan. Kongkalikong dalam UN antarguru dan murid atau sesama pelajar pun jamak ditemui demi mewujudkan satu kata, lulus. Inilah salah satu akar penyebab terjadinya demoralisasi dalam dunia edukasi.

Jihad Muammalah, Wahana Entrepreneurship Madani

Ahad pagi, 15 Sya’ban 1432 H atau 17 Juli 2011, terlihat beberapa kader KAMMI Madani sibuk di salah satu stand bazar yang digelar di halaman Masjid Agung Sunda Kelapa (MASK), Menteng, Jakarta Pusat. Bazar yang dipanitiai oleh salah satu jama’ah pengajian ibu-ibu di MASK ini memang diadakan untuk menyambut kedatangan bulan Ramadhon. Kegiatan bazar ini bernama “Bazar Amal MASK”. Tentu saja kader-kader KAMMI Madani tadi turut serta membuka satu stand di Bazar tersebut diantara stand-stand lain yang di buka oleh masyarakat umum. Tahun ini menjadi tahun pertama keikutsertaaan KAMMI Madani dalam kegiatan semacam ini.
Aksi yang merupakan bentuk realisasi program kerja Departemen Ekososmas yang diketuai oleh akhiyna Omar Rofil dan dikomandoi Akhiyna Faizun Muhtada sebagai PJ kegiatan ini bertajuk “Jihad Muammalah” atau “Ji-M” (baca: Ji Em). Tujuan dari aksi tersebut adalah memberi pengalaman realsebagai pelatihan bagi para kader KAMMI Madani, khususnya dari Departemen Ekososmas (Ekonomi & Sosial Kemasyarakatan) dalam bermuammalah dan merupakan salah satu aksi KAMI Madani sebagai wujud pengabdian ke masyarakat secara langsung.

Monday, July 18, 2011

Surat Cintaku untuk kader-kader KAMMI STT Telkom by Syamsudin Kadir

Oleh : Syamsudin Kadir
(Tim Kaderisasi KAMMI Bandung 2006 – 2008)


Saudara-saudaraku,
Apa yang kita lakukaka saat ini di dakwah ini belum seberapa jika dibandingkan dengan pengorbanan yang telah dilakoni oleh para pendahulu-pendahulu kita. Betapa indah pesan sejarah Umar bin Abdul Azis, tapi juga betapa indah sejarah pengorbanan banyak sahabat yang telah banyak member untuk islam. Kalaulah sejarah itu akan berulang, maka harapan besarnya adalah kita menjadi pelanjutnya. Suatu ketika saya pernah merenung. Saya merenungi bagaaimana para pendahulu kita yang telah banyak berkorban sehingga Indonesia kita nikmati seperti saat ini. Atas dasar apakah mereka melakukan itu semua? Mengapa mereka begitu ikhlas untuk mengorbankan tenaga, gagasan dan waktunya untuk Indonesia? Saya tidak tahu apa jawaban yang harus disampaikan untuk mewakili alas an mereka ‘mengapa’ melakukan itu semua.


Sunday, July 17, 2011

Jaket KAMMI dengan konsep elegan dan exclusive





Jaket KAMMI dengan konsep elegan dan exclusive, design by mecca. Stock terbatas, hanya tersedia S = 13, M = 12, L = 14. Bahan kanvas yang sangat halus, sehingga nyaman dan tidak panas kalau dipakai, cocok untuk di lapangan, namun juga tetap elegan untuk bertemu tokoh. Atribut yang sederhana memberi kesan simpel tapi tetap gaya. dengan bahan dalam parasut puring, ada saku dalamnya. memakai resleting dan rib standar distro, resleting asli YKK. pemesanan bisa dilakukan dari sekarang (di postingan ini atau DM ke 0821 2810 1551 ), dan dapat diambil saat mukernas nanti. Harga Rp 150.000. by: CEKAS convection.


>

Saturday, July 16, 2011

KAMMI: “SBY Gagal, Mundur atau Percepat Pemilu!”

Pengurus Pusat Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI): “SBY GAGAL, MUNDUR ATAU PERCEPAT PEMILU!”
Bismillahirrahmanirrahim
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Tanpa harus berburuk sangka, dengan mata kepala sendiri kita bisa menyaksikan pemerintahan dibawah komando SBY-Budiono masing silang sengkarut dalam perangkap jebakan kepentingan elit dan tidak kunjung memberikan kita seberkas saja harapan untuk optimistis. Selama hampir dua tahun, gunungan problem tidak pernah bisa diselesaikan.
Mulai dari masalah kesejahteraan rakyat kecil yang tak terurus. Pertumbuhan ekonomi yang sering dibanggakan hanya ilusi. Faktanya, hanya segelintir orang atau kelompok yang menikmati pertumbuhan ekonomi tersebut dan bercokol dipuncak menara kemiskinan yang kian meresahkan.
Standar kemiskinan Badan Pusat Statistik yang selama digunakan pemerintah untuk melakukan propaganda dan penyesatan, ternyata sangat bias. Hingga kini pemerintah masih mengunakan standar kemiskinan di bawah 1 dollar AS, padahal negara tetangga seperti Malaysia telah menerapkan standar 2 dollar AS atau sesuai standar Bank Dunia (World bank).
Dengan standar penghasilan 1 dollar AS atau kurang lebih Rp.9.000 per hari dengan kurs Rp. 9.000/dollar, di tengah lonjakan harga yang tidak mampu dikendalikan oleh pemerintah, rakyat bisa beli apa? Sebuah marginalisasi angka yang kamuflase!
Hal ini tentu tidak lepas dari ketidak jujuran (kebohongan) pemerintah bahwa Indonesia masih memiliki penduduk miskin tidak kurang 59,4 juta orang, berdasarkan purchasing power parity World Bank. Bahkan sejumlah lembaga mencatat angka real kemiskinan Indonesia mencapai 117 juta orang. Maka tragedy Ruyati, TKI yang dihukum pancung di Arab Saudi adalah contoh kecil salah satu potret buram kemiskinan Indonesia dan kelalaian peerintah.
Sementara itu, dari sisi supremasi hukum, janji-janji pemerintahan bersih yang sering dikampanyekan SBY dari podium ke podium, hanya isapan jempol belaka. Berbagai kasus tidak pernah usai hingga kini. Mulai dari Skandal Century, Rekenig Gendut Polri, Mafia Pajak, Mafia Hukum dan kini Mafia Pemilu.
Tragisnya, partai yang didirikan SBY dan menjabat sebagai Ketua Dewan Pembina, partai Demokrat menjadi bungker bagi sejumlah pelanggar hukum. Setidaknya tidak kurang dari 10 elit Demokrat dari tingkat DPP hingga DPD yang terlibat korupsi. Mulai dari As’ad Syam, Yusran Aspar, Sarjan Tahir, Moch Salim, Yusak Yaluwo, Amrun Daulay, Agusrin Maryono Najamudin, Nazaruddin, dan Murman Effendi.
Jika partai yang getol mengkampanyekan korupsi saja sudah menjadi rumah nyaman bagi koruptor, maka matilah harapan pemerintahan bersih yang selalu didengung-dengungkan itu.

Kinerja kabinet pragmatis yang dibentuk atas konsesi power sharing oleh SBY pun tidak menunjukkan kinerja positif. Bahkan rilis terakhir dari Unit Kerja Presiden Pengawasan dan Pengendalian Pembangunan (UKP4), menunjukkan, kondisi Indonesia makin terpuruk dan tak kunjung menunjukkan sinyal perbaikan kesejahteraan rakyat. 50 persen instruksi Presiden tidak dipatuhi oleh para menteri yang terdiri dari bebagai latar belakang parpol dan kepentingan. Reshuffle yang sering didengung-dengungkan, pun tidak akan mampu memperbaiki kinerja kabinet karena adanya tarik menarik kepentingan.
Selain eksekutif, saat ini legislative kita juga bermasalah. Hasil pemilu pada 2009 yang lalu dipertanyakan legitimasinya. Terungkapnya skandal “surat palsu” MK yang berakar dari kisruh di Komisi Pemilihan Umum (KPU) yang ternyata menjadi tempat bercokolnya mafia pemilu mengindikasikan bahwa banyak kursi haram di DPR. Berdasarkan data, diduga tidak kurang dari 16 kursi haram yang ada disenayan berdasarkan pengaduan mereka yang dicurangi. Menurut kami, ini hanyalah gunung es, ada banyak kasus lain yang belum terungkap.
Jika pemilu yang merupakan satu-satunya instrument politik yang digunakan dalam proses sirkulasi kepemimpinan politik sudah dipenuhi kecurangan, maka dengan temuan temuan kecurangan tersebut, kepemimpinan hasil pemilu 2009 secara otomastis tidak lagi legitimate!
Maka rangkaian kebohongan-kebohongan dan janji-janji palsu Pemerintahan SBY dan permasalahan di legislatif sudah cukup menjadi alasan bagi seluruh rakyat Indonesia untuk menyerukan secara moral kepada seluruh rakyat Indonesia untuk :
  1. MENDESAK KEPADA PRESIDEN SBY YANG TELAH GAGAL MEMIMPIN INDONESIA UNTUK SEGERA MENGUNDURKAN DIRI DAN MEMBUBARKAN KABINET untuk kemudian dibentuk dewan rakyat sebagai bentuk peralihan pemerintahan.
  2. MENDESAK KEPADA PRESIDEN SBY, DPR UNTUK SEGERA MEMPERCEPAT PEMILU. Baik Pemilihan Presiden maupun Pemilihan Anggota Legislatif. Reformasi Jilid II.
Dan untuk menyikapi kerisauan ini maka, seluruh pengurus KAMMI Se-Indonesia akan berkordinasi pada tanggal 18-22 Juli di Bandung.
Demikian pernyataan sikap ini dibuat, semoga menjadi perhatian kita semua.
Dikeluarkan di : Jakarta
Pada tanggal : 14 Juli 2011 M
Pengurus Pusat
KESATUAN AKSI MAHASISWA MUSLIM INDONESIA (PP KAMMI)
Muhammad Ilyas, Lc.
Ketua Umum
CP :
  • Sugeng Wiyono (Wakil Ketua Umum PP KAMMI)
  • Eric Setiawan (Ketua PP KAMMI bid Komunikasi) 081806666926


Pimpinan KAMMI Pusat
Jalan Gugus Depan Nomor 2 Rt. 03 Rw. 02, Kelurahan Palmeriam, Kecamatan Matraman, Jakarta Timur
Telepon, E-mail: 085217716673/021-83262566, pp.kammi@gmail.com, kesekjendnan@gmail.com, http://www.kammi.org

Thursday, July 14, 2011

Mahasiswa dari Berbagai Elemen Tuntut SBY Mundur

Yogyakarta, CyberNews. Puluhan mahasiswa dari berbagai elemen. Kamis (14/7) menuntut mundur Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dari jabatannya sebagai Presiden RI. Karena dianggap gagal memimpin bangsa.

Aksi yang dilakukan mahasiswa ini, semula akan dilakukan pada saat presiden melantik perwira TNI di Lapangan Dirgantara, Kompleks Akademi Adisutjipto (AAU), Yogyakarta. Namun karena tertahan aparat keamanan, sehingga mahasiswa menggelar aksi di depan pintu gerbang AAUYogyakarta yang jaraknya dari tempat lokasi upacara sekitar 1,5 kilomter.

Dalam waktu yang bersamaan puluhan mahasiswa yang tergabung dalam wadah Aliansi Mahasiswa Menggugat (AMM) menggelar aksi yang sama di depan Istana Gedung Agung, Jalan A Yani, Yogyakarta. Dalam aksinya itu, mereka juga minta SBY segera mundur dari jabatannya sebagai presiden.

Dalam orasinya Zulfikar menyerukan kepada SBY agar mundur saja jadi presiden, karena kebijakannya selalu kontradiktif dengan kepentingan rakyat, termasuk menyangkut persoalan pengangguran kemiskinan, kebijakan luar negeri dan soal Keistimewaan DIY yang hingga kini belum memiliki kejelasan.

Dikatakan, lebih dari 50 persen rakyat sudah tidak simpatik dengan kepemimpinan SBY. Penyakit moral telah menimpa negeri ini, dan SBY telah gagal membentuk kesejahteraaan rakyat.

''Meski dia mengklaim kemiskinan dan pengangguran turun, tapi faktanya malah meningkat tajam. Hal ini dibuktikan dengan banyaknya pengangguran dimana-mana,'' teriak Zulfikar di depan massa saat menggelar aksi di pintu gerbang AAU Yogyakarta, Kamis (14/7).

Selain itu, lanjut dia, rakyat hingga kini juga diberikan ketidakpastian dalam berbagai hal. Sehingga sudah saatnya SBY untuk mundur dari jabatannya sebagai presiden karena telah gagal mewujudkan pemerintahan yang bersih.

''Kami menuntut SBY segera mundur dengan terhormat. Kalau tidak mau secara terhormat, maka kami dari mahasiswa akan menuntut mundur secara paksa," katanya.

Sementara itu, kepala departemen kebijakan publik KAMMI DIY, Aza El Munadian menambahkan, dalam persoalan kebijakan yang berkaitan dengan Keistimewaaan DIY, SBY juga dianggap telah mengingkari janjinya untuk menjaga Keistiwaan Yogyakarta.

"SBY selaku Presiden Indonesia telah menutup telinga dalam mendengar aspirasi rakyat. SBY harus meminta maaf kepada rakyat Yogyakarta atas pengingkaran janji saat kampanye 2009 yang menyatakan dukungan pada Keistimewaan DIY," katanya.

Dalam aksinya, massa juga menggelar aksi teatrikal tepat didepan gerbang Ksatrian AAU. Mereka menaburkan bunga tujuh rupa sebagai simbol matinya demokrasi di Indonesia. Massa yang melakukan aksi mendapat penjagaan ketat dari aparat kepolisian.

Sedangkan puluhan mahasiswa AMM yang menggelar aksi di depan Istana Negara Gedung Agung, Jalan A Yani, Yogyakarta, menolak kedatangan SBY ke Yogyakarta karena dianggap gagal mensejahterakan rakyat. Semula massa menggelar aksi di perempatan Kantor Pos Besar atau lebih tepatnya di ''Titik Nol'' Kota Yogyakarta. Setelah itu, bergerak ke utara menuju pintu masuk utama Istana Negara Gedung Agung, Jalan A Yani, Yogyakarta.

Koordinator aksi, M Anai menyerukan penolakan rencana kenaikan harga BBM dan kenaikan harga sembako yang saat ini sudah berlangsung. Massa juga menolak berbagai Rancangan Undang-Undang (RUU), diantaranya RUU Pengadaan Tanah, RUU Intelejen dan RUU Perguruan Tinggi.

Menurut Anai, solusi berbagai permasalahan bangsa yang ada sekarang ini adalah nasionalisasi berbagai aset strategis. Selain itu, reformasi agraria sejati harus bisa dilaksanakan masyarakat. "Pemerintah harus berani menyita harta para koruptor untuk pendidikan dan kesehatan rakyat," imbuhnya.

Dalam aksinya itu, massa juga menggelar teatrikal hingga makin menarik perhatian masyarakat yang kebetulan sedang melalui jalan tersebut. Selain itu, massa juga menaburkan bunga tujuh rupa sebagai simbol matinya demokrasi di Indonesia.

Meski mereka bisa bergerak bebas, namun aksi ini tetap mendapat penjagaan aparat keamanan yang cukup ketat. Mereka dikawal aparat keamanan kepolisian dan TNI dengan persenjataan lengkap.

( Sugiarto / CN34 / JBSM )

KAMMI Gelar Unjuk Rasa di Gerbang AAU

Sleman (ANTARA) - Puluhan mahasiswa dari Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Daerah Istimewa Yogyakarta, Kamis pagi berunjuk rasa di Gapura Akademi Angkatan Udara di Jalan Solo Kalasan, Yogyakarta bersamaan dengan Pelantikan Perwira Remaja TNI oleh Presiden Susilo Bambang Yodhoyono.
Sebelumnya puluhan mahasiswa yang semuanya mengenakan pakaikan serba hitam tersebut berkumpul di Bunderan Universitas Gadjah Mada Yogyakarta dan bergerak dengan konvoi menuju Akademi Angkatan Udara (AAU), namun mereka tidak bisa masuk ke AAU karena pintu masuk diblokade ketat TNI dan Polisi.
Selanjutnya massa aksi tersebut menggelar orasi dan teatrikal di tepi Jalan Solo, Kalasan dengan pengamanan ketat dari aparat TNI dan polisi.

MTQ dan Anarkisme Mahasiswa

Anarkisme sudah menjadi brand image mahasiswa di Makassar. Hal itu tidak terjadi dengan sendirinya, tapi ada proses kausal yang melatari. Asumsi  tersebut bisa kita lihat dari berbagai pemberitaan seputar tawuran, pengrusakan fasilitas umum, pengrusakan fasilitas kampus, bentrok dengan aparat kepolisian hingga bentrok dengan petugas pengamanan kampus. Bahkan pernah diberitakan  dan diblow up oleh media massa, tentang mahasiswa Makassar yang bentrok dengan masyarakat.

Kejadian yang tentu sangat memalukan karena mencederai predikat mahasiswa dengan simbolisasi intelektual dan juga ikon perlawanan untuk membela hak-hak rakyat. Terlepas dari permainan provokator, tapi itulah faktanya.
Jika dilihat secara objektif, sebenarnya, bukan hanya mahasiswa di Makassar yang sering tersulut dan bertindak anarkis. Anarkisme bisa terjadi di mana saja. Misalnya baru-baru ini mahasiswa Universitas Pattimura di Maluku, dibakar setelah terjadi bentrok antar mahasiswa.

Wednesday, July 13, 2011

Karena Mereka Elang Muda


(Pengantar untuk Buku Mengapa Aku Mencintai KAMMI:
Serpihan Hati Para Pejuang)[1]
“Tidak ada yang lebih indah dalam sejarah perasaan manusia seperti saat-saat ketika ia sedang jatuh cinta. Bukan karena dunia di sekeliling kita berubah pada kenyataannya. Tapi saat-saat jatuh cintahlah yang seketika mengubah persepsi kita tentang dunia di sekeliling kita”, demikian ungkapan Ust. Anis Matta dalam bukunya Serial Cinta.
Namun cinta di sini tidak dimaknai sebagai “perasaan syahwat” yang tak terkendali. Sebagaimana para pecinta palsu memahami cinta. Di sini, cinta benar-benar cinta. Cintanya para pecinta. Bagaimana tidak, KAMMI yang masih berusia muda—ibarat gadis cantik itu—membuat mereka tergila-gila. Yang membuat mereka “menggodanya” tapi juga “menikmatinya.” Memberi makna terhadap diri mereka sendiri, dan juga untuk KAMMI tempat mereka memulai karya.

Tuesday, July 12, 2011

Karena Nazaruddin Bukanlah si Pitung

Masyarakat tanah air tentu kenal dengan si Pitung, jagoan kampung dari tanah Betawi yang sering membuat  penjajah Belanda naik pitam. Si Pitung merupakan nama panggilan dari asal kata Bahasa Jawa Pituan Pitulung (Kelompok Tujuh), kemudian nama panggilan ini menjadi Pitung. Nama asli Si Pitung sendiri adalah Salihun (Salihoen).

Si Pitung

Menurut cerita, si Pitung, tokoh legendaris pada abad ke 19, dilukiskan oleh Belanda sebagai penjahat, perampok, pengacau, dan deretan sebutan negatif lain. Namun, oleh rakyat kecil, si “Robin Hood Betawi” ini adalah pahlawan, jagoan kampung, sosoknya begitu disegani baik oleh lawan maupun kawan.

Salah satu kesaktian Pitung adalah ia memiliki ilmu menghilang. Alkisah, si Pitung pernah terdesak dalam sergapan Belanda di salah satu rumah di bilangan Jembatan pesing. Dalam penyergapan itu, pihak kompeni (istilah lain bagi penjajah Belanda),  tidak menemukan si Pitung. Namun tiba-tiba si Pitung muncul di dapur rumah tersebut.

Kisah seputar kesaktian si Pitung memang belum bisa dipastikan kebenarannya. Namun, sebagian masyarakat tanah air percaya dengan kisah tersebut. Termasuk, percaya bahwa si Pitung meninggal lantaran ditembak oleh peluru emas milik Schout Van Hinne, musuh bebuyutan si Pitung.

Pro dan kontra banyak menyelubungi kisah legenda Si Pitung, tetapi pada dasarnya bahwa tokoh Si Pitung adalah cerminan pemberontakan sosial yang dilakukan oleh "Orang Betawi" terhadap penguasa pada saat itu yaitu Belanda. Apakah hal ini dipertanyakan valid atau tidaknya, kisah Si Pitung begitu harum didengar dari generasi ke generasi oleh masyarakat Betawi sebagai tanda pembebasan sosial dari belenggu penjajah.

Yang pasti bahwa ilmu yang dimiliki oleh si Pitung digunakan untuk kebaikan, melawan penjajah dan melindungi tanah airnya. Si Pitung memang sering mencuri dan merampok harta hasil jajahan Belanda dan kaki tangannya, akan tetapi hasil rampokan tersebut bukan untuk dirinya sendiri.

Kepak Burung Nazar (udin)

Oleh: Vivit Nur Arista Putra

Serangan Nazarudin melalui BBM dari negeri antah berantah memasuki babak baru. Kali ini presiden SBY sekaligus ketua dewan pembina partai demokrat dan ketua DPP Anas Urbaningrum dibuat gerah oleh ulah bendaharanya. Via SMS yang disebarkan ke wartawan, Nazar mengabarkan bahwa Anas hendak mengkudeta SBY. Selain itu, Edhi Baskoro sekjen partai yang mengaku nasionalis dan religius ini juga dikatakan hanya sebagai boneka Anas untuk melanggengkan kepentingannya. Bagi-bagi uang suap pun menyeruak dibeberkan demi pilicin kemenangan Anas dalam kongres di Bandung setahun silam.

Kasus yang mendera internal partai biru-biru ini merupakan yang terbesar dialami partai besar berkuasa dalam sejarah perpolitikan Indonesia. Apalagi setali tiga uang yang merembet begitu cepat ke lain perkara seperti isu pecah kongsi elit partai, Andi Nurpati yang terseret dugaan surat palsu MK, Angelina Sondakh yang disebut terlibat suap korupsi di Sesmenpora, hingga prahara yang menimpa Azidin dan kader Demokrat lainnya lantaran korupsi.

Monday, July 11, 2011

Spirit PMB 2011 KAMMI (Urgensi Kaderisasi Gerakan Dakwah Pemuda)[1]

Oleh: Syamsudin Kadir[2]

MELAKUKAN pengkaderan adalah salah satu model perjuangan para nabi. Bersama para kader inti yang kuat dan tangguh, mereka berjuang menyebarkan (baca: mendakwahkan) Islam dan mengatasi berbagai ujian dan rintangan yang dahsyat yang mereka lewati.
Allah Swt. berfirman:

Awas ada Spilis! (Bahaya Sekularisme, Pluralisme dan Liberalisme) Prikitiew …

Melawan dan Menawan Spilis (Sebuah Pengantar)

SAHABAT, kamu tahu kan kalau umat Islam dari dulu hingga kini masih dilanda berbagai masalah? Kita diserang dari segala sisi nih. Bukan saja di saat kita terbangun dari tidur, bahkan di saat kita tidur sekalipun kita masih dalam kondisi diperangi. Mungkin engga’ semua umat Islam merasakan hal ini, tapi ini faktanya. Itulah yang dikenal dengan sebutan perang pemikiran (ghozwul fikr).

Yang perlu digarisbawahi, dalam konteks Indonesia, pertarungan pemikiran ini mencapai titik puncaknya pasca-kemerdekaan. Fenomena ini merupakan realita paling kental yang menandai kehidupan sosial-politik masyarakat Dunia Ketiga pasca-kemerdekaan. Itulah pertarungan ideologi anak negeri dan kemanusiaan.

Sebagai fenomena sosial, kata Anis Matta , pertarungan ini dilatarbelakangi oleh kekosongan ideologi yang dialami Dunia Ketiga setelah hengkangnya imprealisme dari negeri mereka. Dalam kaitan inilah, lanjut Anis, pertarungan ideologi dapat ditafsirkan sebagai pertarungan dalam mengukuhkan jari diri ideologi. Ini bukan pertarungan antara pembaharuan dan konservatisme. Tapi secara sosiologis, polemik ini merefleksikan pertarungan internal antara orsinalitas dan imitasi. Antara kebenaran dan kebatilan, antara yang jelas dan yang abu-abu.

Analisa sosiologis ini, diakui atau tidak, mendapatkan pembenaran kuat dari substansi pemikiran yang ditawarkan oleh mereka yang secara sepihak, menyebut dirinya pembaharu, toleran, cinta perdamaian dan lain-lain. Ide-ide pembaharuan itu jika dikaitkan dengan ide pembaharuan yang pernah muncul dalam belahan dunia Islam lainnya, mirip dengan apa yang disebut oleh Anis Matta sebagai “onde-onde” yang ditawarkan secara bergilir kepada setiap Negara Islam. Sangat jauh dengan gagasan tajdid (pembaharuan) dan ijtihad para ulama yang sesungguhnya. Bahkan nyaris tak ada korelasinya sama sekali.

Bagiku, ide-ide pembaharuan atau “isme-isme” yang ditawarkan tersebut, tidak lahir dari rahim perenungan yang mendalam terhadap prolematika umat dan sumber ajaran Islam yang sesungguhnya. Juga bukan dari kegelisahan intelektual atau pencarian kebenaran. Ini adalah “kegenitan” dan “kegatalan” yang sudah akut. Dari nafas ide-ide itu, yang sering tercium justru aroma kekalahan jiwa dan kekosongan pikiran sehat. Konklusinya sering dibangun dari premis yang tidak berbalur secara logis, sebuah latar yang sering mereka gaungkan. Atau bahkan aku menyaksikan jika jiwa dan nalar sehat mereka teracuni dan terputus secara tiba-tiba oleh virus inferiority complex.

sponsor